Jumat, 21 Januari 2011

Piala AFF

Garuda, Naturalisasi, Euphoria, Politik, Tiket. Mungkin itulah rentetan kata yang tepat buat menggambarkan perjuangan Team Sepak Bola Nasional di Piala AFF kali ini.

1. Garuda
Garuda di Dadaku…Garuda Kebanggaanku
Kuyakin Hari ini…Pasti Menang…
Itulah lagu paling populer yang dinyanyikan oleh beragam penduduk negeri ini. Tua, muda, miskin, kaya, semuanya akan bersemangat menyanyikan lagu itu, utamanya saat menyaksikan penampilan Timnas di lapangan. Rasa nasionalisme pun meninggi seiring riuhnya mereka bernyanyi. Sesuatu yang jarang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari bangsa ini yang semakin lama semakin individualistis saja.
2. Naturalisasi
Salah satu amanat SBY dalam mendongkrak penampilan tim Indonesia agar dapat berprestasi, setelah dibantai Timnas Uruguay 7-1,  adalah memanfaatkan pemain naturalisasi. Jawaban dari amanat itu adalah Irfan Bachdim dan Christian Gonzales. Gonzales terbukti merupakan striker pelengkap keping terakhir Timnas yang selama ini dikenal susah mencetak gol. Golnya di semifinal kedua saat melawan Filipina benar-benar gol kelas dunia yang mampu memuaskan seluruh bangsa Indonesia, termasuk SBY yang menyaksikannya secara langsung di lapangan. Irfan Bachdim? Cukup lumayan permainannya. Tapi yang lebih istimewa adalah wajahnya yang ganteng hingga bikin cewek-cewek rela berbondong-bondong, berangin-angin ria buat menyaksikan penampilannya secara langsung di lapangan. Walau demikian, kehadiran pemain Naturalisasi ini bagi beberapa kalangan dianggap akan menghambat kemunculan pemain asli Indonesia. Sesuatu yang langsung dibantah sang ketua PSSI, Nurdin Halid, yang menyebutkan bahwa Gonzales bukanlah pemain Natralisasi tetapi pemain yang sejak lama ingin menjadi WNI (apa bedanya coba -_- ) Sementara Irfan belum pernah menjadi warga negara lain selain Indonesia.
3. Euphoria
Tidak ada hari tanpa berita tentang Tim Nasional Indonesia. Inilah komoditi panas media selama bulan Desember 2010. Dan inilah yang sangat ditakuti oleh Alfred Riedl, sang pelatih Tim Nasional Indonesia. Indonesia belum meraih apa-apa. begitulah yang setiap kali diucapkan oleh Riedl menanggapi terlalu berlebihannya media dalam mengekpose Timnas, termasuk pemain-pemainnya. Yang ditakuti Riedl adalah mental pemainnya yang terlalu ke-pede-an hingga belum apa-apa para pemain sudah merasa juara atau minimal merasa juara tanpa mahkota yang sangat berbahaya di sepakbola. Belum lagi sambutan yang berlebihan ples undangan jamuan kemana-mana akan bikin para pemain kecapekan mengikuti acara seremonial. Dan yang lebih penting lagi akan kehilangan motivasi dan fokus pada pekerjaan di lapangan, Mungkin kita masih ingat Euphoria serupa di tahun 2004 kala Timnas diasuh Peter White. Waktu itu kita pun begitu perkasa lewat aksi-aksi memikat Ilham Jayakesuma ples kemunculan si anak ajaib Boaz Salosa. Merasa sudah juara karena berhasil mengatasi Malaysia di Bukit Jalil, Kenyataan pahit harus diterima saat di final, Timnas harus takluk secara tragis oleh Singapura di leg pertama yang bahkan waktu itu dilaksanakan di Senayan, Kejadian serupa kayaknya akan terulang lagi di tahun ini.
4. Politik
Tertuduh utama yang mempolitisasi popularitas Timnas tentu saja adalah PSS yang selama ini dipandang gak becus ngurusi sepakbola nasional. Bahkan Arifin Panigoro secara terang-terangan membuat kompetisi tandingan (LPI) buat nyaingi Liga Super yang penuh rekayasa, bobrok, dan banyak ngabisin duit rakyat. Dalam suatu kesempatan, Nurdin menyayangkan sikap masyarakat yang menjelek-jelekkan PSSI sementara malah memuji Timnas yang notabene adalah tim bentukan PSSI. Lalu juga berbondong-bondong beberapa partai besar sibuk melakukan jamuan pada Timnas, tentu saja skalian kampanye. Sementara media massa maupun elektronik tak henti-hentinya menaikkan oplah maupun rating acara dengan menayangkan momen-momen Timnas dan pemain-pemainnya, bapak-ibunya, kakak-adeknya, sodara-sodara, ponakanjuga, temen seklubnya, temen kecilnya, tetangganya, Belum lagi  hadirnya tulisan or wawancara dari pengamat tentang timnas yang tambah lama tambah mengada-ngada, Pokoke lucu lah ngeliat tiap hari ada saja orang yang mengklaim and mengklaim paling berjasa gitu.
5. Tiket
Satu catatan buruk tentang penyelenggaraan Piala AFF 2010 ini adalah penjualan tiket pertandingan yang amburadul. Akibat membludaknya penonton yang begitu antusias menyaksikan penampilan hebat Timnas, membuat tiket-tiket sold out (menurut panitia) jauh sebelum hari pertandingan. Walau demikian terlihat tiket itu muncul kembali di hari pertandingan melalui para calo-calo karcis. Tentu saja dengan harga melambung 2 sampai 3 kali lipat. Beberapa penonton kemudian menyanyangkan tiket VVIP yang dibagikan petinggi PSSI secara gratis pada beberapa anggota DPR yang tentu saja akan mengurangi jatah penonton lain. 

Kejuaraan piala AFF sudah lewat namun animo masyarakat untuk melihat sepakbola indonesia berjaya tetap berkobar. Menjadi runner up pada ajang piala AFF mungkin merupakan awal yang baik bagi persepakbolaan indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan adanya ajang tersebut masyarakat indonesia makin mencintai timnas indonesia. Dari kejuaraan AFF tersebut memiliki dampak diluar lapangan sepakbola seperti dampak perekonomian indonesia. Dengan adanya ajang tersebut banyak orang berbondong-bondong untuk membeli pernak-pernik yang berkaitan dengan timnas. Kejadian ini menaikkan omset para pedagang-pedagang kaos maupun penjual makanan yang berjualan di sekitar GBK. Dalam bidang Informatika dampak perekonomian indonesia terlihat dengan penjualan-penjualan secara online seperti penjualan tiket. Mungkin dulu masih beberapa orang yang belum mempercayai dengan transaksi online apalagi pemesanan tiket sepakbola. Dengan adanya ajang ini terciptalah iklim perdagangan baru yaitu secara online. Perdagangan secara online merupakan bukan hal yang baru tapi penerapan bagi kalangan yang belum pernah atau pun mungkin ragu-ragu menjadi mengerti dan paham akan pembelanjaan online.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar